By: G. Sukaton

Pendidikan menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan kaum muslimin. Secara normatif, Al-Quran maupun As-Sunnah mendorong kaum muslimin untuk betul-betul memperhatikan akan hal ini. Al-Quran, berkali-kali mengingatkan kepada kita, misalnya:
Firman Allah:
….لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٤٩
“…supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Ad-Dzariyat: 49)
Juga firman-Nya:
لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ ٢٦٦
“…..agar kamu memikirkannya.” (QS. Al-Baqarah: 266)
Aktivitas ta’aqqul, tadzakkur, tafakkur, tadabbur, dan ayat-ayat yang semakna dengannya, merupakan aktifitas yang diminta Al-Quran yang bertujuan untuk memahami. Sementara proses memahami itu tiada lain merupakan bagian dari upaya pendidikan; yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya kita tidak faham tentang sesuatu, akhirnya menjadi faham. Inilah isyarat bahwa betapa pentingnya pendidikan dalam Islam.
Di dalam salah satu hadist, Rasulullah bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan, maka ia akan dipahamkan dalam masalah agama.” [Muttafaqun ‘alaihi]
Rasul menjelaskan bahwa tidak bisa dipisahkan antara kebaikan dan pemahaman terhadap agama. Seakan–akan Rasulullah mengatakan, jika ingin mendapatkan kebaikan, maka pelajarilah agama. Mafhum mukholafahnya (makna kebalikan) adalah, bahwasanya manusia tidak akan mendapatkan kebaikan jika mereka tidak memahami agama. Kerusakan ummat ini tiada lain karena mereka tidak paham akan agama. Intinya, manusia akan mendapatkan kebaikan ketika mereka memahami serta mengamalkan agamanya. Dalam rangka itulah pendidikan itu wajib ada di tengah – tengah kehidupan
Makna pendidikan sebagaimana yang disebutkan dalam nash syara di atas, sayangnya kurang atau bahkan tidak ada sama sekali dalam sistem pendidikan nasional kita saat ini. Pendidikan nasional kita ruhnya bukan akidah Islam, akan tetapi sekularisme.
Sekularisme ini telah memisahkan bahkan menjauhkan agama dari pendidikan, sehingga sistem pendidikan yang dibangun di atasnya telah melahirkan generasi dengan kepribadian yang keropos. Mereka mengalami disorientasi dalam kehidupannya. Mereka memandang bahwa kehidupan ini hanya sebatas untuk hal-hal yang bersifat duniawi saja.
Fenomena maraknya penyimpangan perilaku berupa kriminalitas, seks bebas, narkoba, khususnya di kalangan remaja saat ini, merupakan akibat dari diabaikannya peran agama dari kehidupan utamanya dalam aspek pendidikan.
Ketika mereka belajar pun, tujuannya hanya untuk dunia saja. Hilang sudah ‘ruh’ dalam pendidikan saat ini. Pendidikan semacam itu tidak akan membentuk generasi yang ber-syakhsiyah Islam (kepribadian Islam).
Islam bicara soal pendidikan
Islam tidak memisahkan antara akidah dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang lainnya. Ketika terjadi peristiwa gerhana misalnya, Islam tidak melihatnya sebatas peristiwa alami saja, akan tetapi merupakan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dengan kata lain, peristiwa “alami” ini senantiasa dikaitkan dengan akidah Islam. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi SAW bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”
(HR. Bukhari no. 1044)
Dengan senantiasa dikaitkan dengan akidah Islam, ilmu pengetahuan apapun akan bermuara pada sebuah kesimpulan, bahwa di balik segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini, ada kekuasaan Allah di sana. Jadi, tidak ada pemisahan antara akidah Islam dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Sekolah yang ideal bagi seorang muslim adalah sekolah yang tidak memisahkan agama dari pendidikan, di mana akidah Islam menjadi pondasinya. Pengatahuan umum tidak dipisahkan dengan pengetahuan agama. Tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah membentuk syakhsiyyah Islam (kepribadian Islam).
Di dalamnya, baik para guru dan karyawan, memiliki akidah Islam yang kokoh serta ikhlas dalam beramal, dan juga ber-syakhsiyah Islam (kepribadian Islam). Di antara mereka terbangun suasana keimanan (jawwul iimaani) yang kuat. Mereka ikut terlibat dalam hal pembinaan siswa-siswinya baik secara langsung melalui pengajaran di dalam kelas maupun secara tidak langsung melalui pemberian keteladanan yang baik yang akan dicontoh oleh siswa-siswinya. Ketika hal ini terwujud di dalam suatu lembaga pendidikan berupa sekolah, maka akan menghasilkan ilmu yang barokah.
Tidak hanya di lingkungan sekolah, di lingkungan rumah dan lingkungan masyarakat sekitar pun sudah selayaknya mendukung dalam upaya pembinaan ini. Ketiga komponen ini (sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat) harus terintegrasi dan tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya.
Jangan sampai misalnya, di sekolah anak-anak sudah dididik serta dibina dengan baik, ditegakkan dalam dirinya akidah yang lurus, ibadah yang benar, diperkuat dengan suri tauladan yang baik dari para gurunya, namun di lingkungan rumah dan di lingkungan masyarat tidak mendukung pembinaan para siswa. Jika hal ini terjadi, maka proses pembinaan tidak akan berhasil.
Sekolah Islam Terpadu (SIT), Sebuah Harapan
Di tengah-tengah sistem pendidikan yang fasad, serta serangan masif budaya yang merusak generasi, semacam LGBT, sex bebas dan sebagainya yang telah semakin menjauhkan generasi muslim dari agamanya, ternyata masih ada secercah harapan untuk negeri ini bangkit dari keterpurukannya.
Di tengah-tengah masyarakat sudah bermunculan Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang berkontribusi memperbaiki negeri. SIT merupakan sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Al-Qur’an dan As Sunnah.
SIT diselenggarakan dengan memadukan secara integratif nilai dan ajaran Islam dalam bangunan kurikulum dengan pendekatan pembelajaran yang efektif dan pelibatan yang optimal dan kooperatif antara guru dan orang tua, serta masyarakat untuk membina karakter dan kompetensi murid.
Kemunculan Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang saat ini mulai marak di Indonesia, dinilai suatu hal yang sangat positif. Ada indikasi kuat sudah mulai muncul kesadaran orang tua bahwa betapa pentingnya pendidikan Islam dan lembaga pendidikan Islam dalam hal membina anak-anaknya.
Kesadaran ini tampaknya semakin meningkat. buktinya, SIT semakin menjamur, dan masing-masing SIT yang ada semakin kuat karena adanya dukungan kepercayaan dari orang tua. Di samping itu, di balik maraknya SIT ini juga, ada indikasi kuat bahwa masyarakat sudah semakin jenuh dengan sistem sekular saat ini, yang telah menimbulkan kerusakan pada seluruh sendi kehidupan bangsa.
SIT setidaknya mampu menjawab permasalahan pendidikan yang ada saat ini. Keberadaannya bisa menyelamatkan sebagian umat Islam. Sebab, di dalam SIT ada nuansa dakwahnya, yang mana hal tersebut sangat jarang ditemukan di sekolah-sekolah umum.
Roudlorul Jannah sebagai salah satu SIT yang ada di Indonesia memahami betul akan peran dan tanggung jawabnya sebagai lembaga pedidikan yang berusaha melahirkan generasi muslim yang berkepribadian Islam, menguasai sains dan teknologi serta life skill.
Lebih dari itu, efek dari program-program yang dirancang dalam nuansa dakwah di dalam lingkungan sekolah, sedikit banyak telah mengantarkan para siswanya untuk siap menjadi pejuang Islam. Sebagian lulusannya yang kini sudah tersebar di berbagai universitas di Indonesia, bahkan luar negeri telah menjadi kader-kader bahkan leader dakwah Islam di kampusnya masing-masing.
Kita berharap para siswa lulusan Roudlotul Jannah ini kelak akan menjadi pemimpin umat, pembela Islam yang tangguh di masa depan yang mampu membawa ummat kembali kepada kejayaannya. Kepada para guru-gurunya, semoga semakin ikhlas dan berkarakter sebagai pejuang Islam. Karena dengan menjadi guru yang mukhlis dan berkarakter pejuang, maka in sya Allah akan melahirkan murid – murid yang berkarakter pejuang. Kita juga berharap, Roudlotul Jannah semakin maju dan berkembang, sukses, berkah dan menjadi bagian terbentuknya kembali kejayaan ummat Islam di masa yang akan datang.
